Budak Korporasi

Untuk pertama kalinya saya mengisi blog ini dengan post berbahasa Indonesia, bukan saya berlaku sok bule dengan menggunakan bahasa Inggris sebagai pengantar utama blog saya, hanya saja saya ingin tulisan saya dapat dibaca secara luas di seluruh dunia. Namun untuk kali ini post berbahasa Indonesia saya buat agar lebih mengena ke pembaca Indonesia secara umum. Tentunya postingan inipun akan kelak diterjemahkan dalam bahasa Inggris dengan tujuan yang sama, agar dapat dibaca secara global.

Sebelum memulai tulisan ini saya ingin memperkenalkan kata “working class group” kepada para pembaca sekalian. Apakah kata ini cukup familiar?

Working class group: A group of people who works for wages especially manual or industrial laborers.

Secara umum “working class group” ini seringkali dihubungkan dengan “blue collar” atau pekerja manual, walaupun seiring dengan era yang semakin berkembang (dan kepentingan para kapitalis yang semakin menjadi-jadi) para “while collar” lama kelamaan juga memiliki kelas yang sama dengan para “working class group” ini. Memang para “white collar” selalu menganggap dirinya sebagai bagian dari grup orang-orang terpelajar yang menurut mereka memiliki “strata” lebih tinggi daripada sekedar pekerja “blue collar”, sehingga mereka menyebut dirinya sebagai para kelas menengah. Menarik sekali membaca tulisan di blog seorang Aliyuna Pratisti dengan judul “Working Class Hero” yang di dalamnya memuat pemikiran John Lennon yang tertuang dalam salah satu lagu yang Ia buat. Tulisan ini jugalah yang menjadi inspirasi bagi saya mengembangkan tulisan yang masih berkaitan dengan kehidupan para “working class group”.

Sejak revolusi industri istilah ini berkembang cukup pesat dan menggambarkan keadaan dunia yang bersiap maju ke era modern. Para pekerja manual dikerahkan untuk dapat mendukung pergerakan ekonomi, mulai dari menjalankan mesin, hingga menciptakan mesin itu sendiri. Hingga ketika era modern dan canggih tercapai, manusia ditekan untuk bekerja lebih cepat lagi atau setidaknya mampu beriringan dengan kemampuan alat-alat tersebut bekerja. Modernisasi bisa disebut juga sebagai buah manis yang dilahirkan oleh Kapitalisme, namun sayangnya Kapitalisme telah “berselingkuh” dengan yang namanya keserakahan dengan label kesejahteraan yang kemudian menghasilkan para manusia terpelajar yang bermental buruh kasar. Mereka bekerja siang-malam seperti robot, menekan kebutuhannya sebagai manusia yang beraspirasi dan berkarya. Mereka adalah para budak korporasi yang bisa cukup bahagia dengan disuapi gaji bulanan, cuti, dan hiburan banal sehari-hari.

Menjadi suatu pertanyaan tersendiri bagi saya, buat apa para orang tua menyekolahkan anak-anaknya? Jawabannya mudah: agar anak-anaknya dapat bekerja dan mendapatkan uang. Maksud dari “bekerja” di sini adalah bekerja seperti pegawai, memiliki gaji yang tetap hingga akhir hayatnya.

Yakinkah bahwa itu juga merupakan keinginan anaknya untuk bisa bekerja dan mendapatkan uang saja? Apakah tidak terpikir di benak orang tuanya jika mungkin si anak bersekolah karena ingin menggali ilmu yang Ia sukai atau mempertajam talenta si anak di bidang yang Ia rasa cocok baginya? Kemudian suatu hari si anak (apabila otaknya belum diracuni pemikiran “bekerja dan dapat uang bulanan”) mungkin bercita-cita ingin menjadi seorang pengajar atau pemikir kebijakan atau seniman namun itu semua tidak akan pernah terpikir oleh si anak karena sudah ditanamkan pemikiran “bekerja dan dapat uang bulanan” sudah lebih dari cukup.

Terinspirasi dari tulisan Aris Setyawan di bukunya berjudul “Pias” pada salah satu babnya membasa teori dari Pierre Bourdieu bahwa kaum intelektual tidak akan menjadi corong bangsa, melainkan para kaum terpelajar ini akan menjadi pergerak roda perputaran uang. Para generasi muda dicetak sedemikian rupa oleh institusi pendidikan untuk menjadi penerus perekonomian saja, bukan penerus bangsa dalam artian yang lebih menyeluruh. Generasi muda harus melewati tahun-tahun “normalisasi” moral dan pemikiran dari sejak mereka menyentuh level sekolah dasar hingga lulus nanti.

Propaganda kapitalisme masuk ke nadi-nadi pendidikan di negara ini, mulai dari tata kelola pendidikannya, ilmu yang diberikan, hingga buku-buku yang dicetak di dalamnya. Tak ayal banyak buku sejarah yang berisi ilmu palsu, alias tidak sesuai dengan sejarah yang sebenarnya karena sudah banyak andil orang-orang berkepentingan yang takut ketahuan sejarah buruknya terpampang nyata di buku sekolah anak-anak ingusan.

Menengok pada zaman filsuf pre-Socrates hingga Aurelius, sepertinya para akademisi adalah mereka yang benar-benar ingin menjadi seorang pemikir sejati and tujuan hidupnya adalah membuka tabir ketidaktahuan mereka. Mereka mencari ilmu yang mereka ingin ketahui, mereka mempelajari apa yang menurut mereka perlu digali. Mereka bukanlah orang-orang yang dituntut oleh modernisasi dan globalisasi untuk menerapkan ilmu tertentu, mereka menerapkan ilmu yang mereka secara personal memang membutuhkannya.

Harus saya akui bahwa saya berada pada titik jenuh kehidupan korporasi, saya salah seorang dari “working class group” tersebut (saya tidak munafik membedakan diri dengan blue collar, bagi saya white/blue sama saja budak korporasi). Saya tidak pernah memilih hidup ini, namun “dukungan” orang tua dan lingkungan mengarahkan saya sampai pada titik ini, pekerja proletar di era modern. Ruang personal yang saya idamkan, semakin menipis dengan kesibukan harian menggerakan roda bisnis perusahaan yang menaungi saya. Alangkah indahnya hidup ini jika idealisme berpikir dan mencipta karya masih bisa diterapkan, bukan sekedar hari-hari yang terpaksa dipenuhi untuk mengisi tabungan yang cepat habis sebelum akhir bulan demi hiburan fana semata.

Tapi saya percaya, ini semua tidak akan lama apabila saya tetap teguh pada pendirian untuk mengejar impian menjadi seorang penulis, seniman, dan pengajar. Jalan akan panjang bagi saya yang tidak memiliki latar belakang tiga profesi yang disebutkan di atas, namun di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin dan tidak ada yang terlambat apabila mau mencoba dan berusaha.

Semoga Tuhan selalu bersama kita.

Advertisements

2 Comments

  1. Hi. Blogwalking, lalu nyasar di sini. Pembahasan yang menarik. White collar atau blue collar, selama ia masih digaji, maka ia adalah proletar: pekerja, yang tak punya modal dan alat produksi sehingga menjual satu-satunya yang ia miliki sebagai komoditas: tenaga kerja. Nah ini yang tidak dipahami mereka yang memposisikan dirinya sebagai “white collar” yang merasa stratanya lebih tinggi. Dalam beberapa tahun ini perdebatan mengenai perputaran modal kapital, akumulasi nilai-lebih, serta ekploitasi kelas pekerja sudah sampai pada titik baru: precariat (precarious proletariat). Kelas proletar ini lebih ngenes lagi ketimbang proletar biasa. Precariat selalu hidup dalam kegentingan. Udah dihisap nilai-lebihnya untuk akumulasi nilai lebih pemodal, eh ini kerja sistem kontrak yang nggak ada kelanjutan nasib kerjanya, nggak ada jaminan bakal ada peningkatan karir, dll. Kalau ditilik dari blue collar ini bisa dilihat dari buruh-buruh pabrik yang kerjanya sistem kontrak, atau outsourcing (alih-daya). White collar? Tentu tetap ada: para freelancer, desainer, penulis, editor, mereka yang kerjanya tidak tetap di ahensi-ahensi, dll.

    Begitulah. Semoga bisa memancing diskusi lanjut.

    Ps: terima kasih sudah membaca Pias, dan menyelipkan sedikit intisarinya di tulisan ini. Salam.

    Like

    Reply

    1. Halo bang Aris, terimakasih sudah mampir di blog saya (terutama tulisan saya masi kaku di sana sini). Senang rasanya dapat komentar dari penulis buku kesukaan saya, terlebih komentarnya bisa mengembangkan diskusi lebih lanjut untuk kelak jadi materi tulisan pada blog ini. Ini sebenarnya unek2 nyata bagi seorang proletar kantoran yang sadar diri bahwa dirinya hanya alat pemutar bisnis belaka. Sialnya sy butuh kehidupan ekonomi sy pun dpt terus berputar, dan sy masi keikat kontrak kerja pula apa daya masi jalan mengikuti arus. Lega juga bisa menulis, setidaknya kalau ada yang baca kaum2 kaya sy ikutan sadar kelak harus bisa move on kalo gak mau jadi “alat produksi” sampai akhir hayat or at least sampai usia pensiun.
      Saya suka betul bukunya Bang Aris sangat membuka pemikiran kaum2 kekinian yang belum bisa memahami makna esensi dg eksistensi. Salut Bang! Sukses terus.

      Like

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s